-->
  • Jelajahi

    Copyright © wwb.co.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Sekolah Negeri di Bogor Tahan Ijazah dengan Dalih Uang Bangunan

    dmin
    , November 03, 2021 WIB

    KAB.BOGOR, WWB.co.id - SMP N 1 Ciomas, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, diduga menahan ijazah dengan dalih belum membayar uang Gedung Sekolah.

    Evi Yana ibunda M. Fery Ardiansyah mengatakan, ketika anaknya hendak mengambil ijazah balik lagi sambil menangis karena diminta harus melunasi tunggakan di Sekolah.

    "Waktu itu pas mau ngambil ijazah, dia (Fery) pulang ngomong sambil menangis bahwa ijazah-nya di tahan karena masih ada tunggakan uang Gedung Sekolah sebesar 800.000 lebih," ungkap Evi di amini Fery menceritakan hal itu sembari berlinang air mata. Senin, (01/10/21).

    Menurut wanita kelahiran 79 ini, awal-nya ia mengaku terbebani dengan adanya uang untuk Gedung Sekolah senilai 1 Juta rupiah. Hingga, dirinya memberanikan diri meminta tolong kepada Kepala Desa Ciapus agar mendapat bantuan biaya untuk Sekolah anaknya. "Saya sudah minta tolong ke Pak Kades yang dulu, (bukan yang saat ini menjabat) untuk membantu pendidikan anak saya, maka-nya sampai sekarang saya tidak pernah ke-Sekolah.

    "Tiba-tiba ketika anak saya sudah lulus meminta ijazah tidak bisa diambil, bahkan minta foto kopi-nya saja tidak dikasih. Dengan alasan harus lunas dulu uang Gedung-nya," sambung Evi yang tidak tahan menceritakan hal itu hingga meneteskan air mata-nya kembali.

    Evi mengakui adapun uang yang baru bisa ia bayarkan kepihak Sekolah itu baru 100.000,- . itu pun, kata dia, dari tabungan anak yatim anaknya.

     "Ya Allah Fery. Kata saya, selain ijazah Kakak-kakak kamu di tahan di Sekolahan-nya. Punya kamu juga harus ditahan di sekolah SMP N1 Ciomas karena belum bisa bayar uang untuk Gedung," kata Evi.


    M. Fery Ardiansyah menerima ijazah pada hari Rabu 03 November 2021.

    Ketika dikonfirmasi, Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Sekolah SMP N 1 Ciomas Rahmat Padillah mengatakan, dirinya sudah mewanti-wanti dan mengingatkan pada saat pembagian ijazah tidak boleh ada yang ditahan. "Saya sudah mengusulkan nanti pada saat pembagian ijazah tidak boleh ada yang ditahan walaupun itu ada katanya sumbangan sebelum-nya. Dan saya ada buktinya, itu saya kirim melalui WhatsApp," ucap Rahmat sembari menujukan bukti print out chat-nya kepada wwb.co.id, Rabu (03/11/21).

    Pada saat selesai ujian, kata dia, pada saat mau pembagian ijazah saya tandatangan sebelum-nya kami brefing. Dan kami dalam satu bulan selalu ada (brefing-red) dengan Patroli Keamanan Sekolah (PKS) dan guru.

    Baca juga : 
    Aktivis Desak Disdik Kab. Bogor Tindak Tegas Sekolah yang Masih Menahan Ijazah → https://www.wwb.co.id/2021/11/aktivis-desak-disdik-kab-bogor-tindak.html


    Makanya, ia mengaku kaget mendengar ada-nya berita seperti itu. "Saya khawatir ini ada miskomunikasi. Saya mengintruksikan ke pak Mahya dan tim. Menurut beliou itu memang tidak yang ditahan, cuma punten (maaf) ada siswa yang kesini cuma memang berpakaian tidak layak. ada yang memakai celana pendek, pakai sandal jepit. biasanya kami disini menggunakan aturan," tutur Rahmat di dampingi Wakil Kepala Sekolah Rahade.

    Pengaduan masyarakat, kata dia, memang biasa banyak hal. "Kadang-kadang dia datang kesini, beberapa pengaduan masyarakat juga kadang benar dan tidak benar. Mohon maaf kami juga pernah kejadian seperti itu, Contoh kami ada pengaduan tentang Program Indonesia Pintar (PIP) di Dramaga 2. Kalau PIP itu hanya saja sekolah memberikan keterangan bahwa benar anak ini sekolah, akhirnya kami dipanggil waktu itu. Saya tanya waktu itu alasannya sekolah tidak mau mengeluarkan kartu PIP. Tentunya hal ini, menurut saya komunikasi yang tidak nyambung," ungkap dia mencontohkan.

    Rahmat kembali menegaskan, dirinya sudah mengintruksikan kepada Wakil. "Saya whatsApp ke pak Mahnya, tolong dibagikan meskipun mereka punya tunggakan dijaman-nya pak Deru. Karena dijaman saya tidak ada sumbangan apa pun," tegasnya. 

    Bila ada kesalahan di lapangan dirinya meminta maaf, karena kata dia, selama dirinya menjabat PLT di SMP N 1 Ciomas tidak selalu ada di Sekolah. "Kadang saya disini dua hari, dan kadang kalau ada hal yang penting seperti harus tandatangan ijazah saya kesini," jelas Rahmat yang mengaku menjabat PLT selama 6 bulan.

    Ketika ditanya terkait penahanan ijazah dengan alasan uang gedung, dirinya membantah bahwa tidak ada iuran untuk Gedung. Bahkan, kata dia, disaat dirinya menjabat tidak pernah meminta sumbangan. (Gan)

    Komentar

    Tampilkan