• Jelajahi

    Copyright © wwb.co.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    "Menengok Nasib" Kegundahan Pedagang Keliling Cemilan di Masa Pandemi Covid-19

    dmin
    , November 22, 2020 WIB
    masukkan script iklan disini

    CIANJUR, WWB.co.id - Pandemi Covid-19 belum berakhir, kini masih terus melanda, seakan tak bisa dihentikan. Dan, entah sampai kapan. Hingga membuat banyak buruh pabrik beralih profesi jualan keliling jajanan anak, karena kehilangan pekerjaan ditekuni. Harus kemana mencari mata pencaharian, dampak berimbas jarang atau sepi pembeli, menjadi keresahan seakan putus asa mengais rezeki.

    Laporan: Yad/WWB.com, Minggu (22/11/2020).

    Seperti halnya dialami Ojon (28) seorang buruh pabrik kacang tanah (sangrai suuk). Meskipun pada masa pandemi Covid-19, tetap berjualan  nyambi atau sampingan jualan keliling jajanan warga Desa Kebonpeuteuy, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. 

    Seorang bapak sudah dikaruniai dua anak (laki-laki dan perempuan) masih pada kecil ini pekerja keras, tak pernah lelah. Ojon terpaksa bila kacang tanah kosong di pabrik, dirinya jualan jajanan keliling jalan kaki putar-putar kampung satu pindah ke kampung lainnya.

    "Betul kang? membuat banyak buruh pabrik seperti saya ini, sampingan jualan apa saja. Ya, untuk kebutuhan keluarga sehari-hari," aku Ojon.

    Ia menuturkan, pabrik sekarang lagi sepi barang produksi. Kalau ada barang kerja, bila tidak ada paling juga diam. Dan, itu pun hanya dikasih makan saja. Kerja di pabrik paling hari Jumat saja, sisanya jualan keliling. 

    "Ya, apa saja yang bisa digeluti (tekuni) semampunya yang penting ada penghasilan untuk resiko dapur," ucap Ojon.

    Rutinitas keseharian Ojon, kerja di pabrik sebagai buruh harian lepas dibayar per hari Rp30 ribu. berangkat kerja sekitar pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Namun, kalau sedang libur gak ada kerjaan, dirinya memukul barang dagangan dipundaknya.

    "Karena seminggu kacang tanah yang akan disangrai gak menentu ada. Paling kalau kosong jualan, pulang. Karena tidak dibayar, hanya dikasih makan saja," tutur Ojon.

    Ia bercerita, kalau gak jualan keliling dirinya bersama keluarga mau makan gimana? Sedangkan kebutuhan di rumah pasti ada saja, belum anak minta jajan. Dan, keperluan tak terduga lainnya. Pandemi Covid-19 saat ini berpengaruh juga kepada para pelaku usaha kelas bawah, terutama para pedagang.

    "Lumayan meskipun jualan agar-agar sedikit hasilnya. Tapi ada buat makan dan anak jajan di rumah," bilang Ojon.

    Jajanan yang ditawarkan Ojon seorang buruh harian lepas pabrik nyambi jualan keliling di masa pandemi Covid-19, dirinya jual dengan harga antara Rp1000 dan ada juga jajan harga Rp2000 per bungkus, per plastik. Bisanya, sehari mempersiapkan sekitar 100 hingga 200 hingga bungkus.

    Ojon menuturkan, kekhawatiran, rasa cemas dan keresahan pasti ada lah. Takut terkena atau terpapar virus Corona. Makanya selalu memakai masker bila keliling jualan, tak pernah lepas selalu menempel.

    Sebelum ada Covid-19, ia mengungkapkan, jualan ramai per hari penghasilan biasa mencapai Rp700 ribu (kotor). Tapi setelah pandemi saat ini menurun drastis, karena sepi pembeli. 

    "Mungkin imbasnya dari Covid-19, penghasilan saat ini paling sekitar Rp300 ribu. Belum setor ke yang punya barang (pemodal), karena saya hanya jualan saja. Lalu, kalau barang kan ngambil," bilang Ojon.

    Sambungkan, barang per bungkus macam-macam, ada buah-buahan seperti anggur, mangga, semangka dan lainnya. Lalu, kue-kue, agar-agar, dan jajanan anak lainnya. Pokoknya campur. Sementara, bila dilihat untungnya sedikit lebihnya per bungkus hanya Rp300 rupiah hingga Rp700 rupiah saja. Dan, kebanyakan beli anak-anak, kalau orang dewasa jarang.

    Masih ujar Ojon, berharap pandemi Covid-19 segera cepat berkahir. Jangan berlarut-larut, karena dampaknya terasa pada pedagang kecil. Biasanya jualan ramai, saat ini sepi pembeli kang? Jualan juga kadang tidak habis semuanya masih tersisa banyak.

    "Melihat pandemi saat ini, jadi barang dagangan jumlahnya dikurangi gak banyak-banyak ngambilnya. Misalnya 200 bungkus jadi 100 bungkus, asal ada uang buat bawa ke rumah dan setor ke pemodal," pungkasnya.(**)
    Komentar

    Tampilkan